Shalat

Sifat Shalat Nabi dari Takbir hingga Salam Bagian-2

Bismillah,

Alhamdulliahiraabi 'aalamiin, Ashshalatu wa sallamu 'ala rasulillahi shallallhu 'alaihi wa sallam. Artikel ini merupakan lanjutan dari Sifat Shalat Nabi dari Takbir hingga Salam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibriin.

 

15- Setelah selesai dari membaca al-Qur'an diam sejenak sekadar menenangkan diri sebelum rukuk.

 

16- Kemudian rukuk seraya bertakbir mengangkat kedua tangannya setentang bahu atau daun telinganya. Makmum dibelakangnya mengikuti dengan takbir dan ruku seraya mengangkat tangan. Yang demikian ini dilakukan oleh imam, makmum atau yang shalat sendirian. Demikianlah yang ditunjukkan oleh sunnah. Kemasyhuran riwayat ini melemahkan mereka yang mengingkarinya. Dalam rukuknya Nabi  meratakan punggungnya dan mensejajarkan kepalanya, hingga seandainya diletakkan suatu wadah di atasnya, wadah itu tidak akan jatuh. Menggenggam kedua lututnya dan bertumpu padanya dengan menjarangkan jari-jemarinya. Membuka sikutnya keluar. Beliau terkadang memanjangkan rukuknya. Beliau mengingkari mereka yang meringankan posisi ini dan melarang mematuk (berpindah dari satu gerakan kepada gerakan yang lain) seperti patukan burung gagak (cepat/tergesa-gesa). Ketika rukuk, Nabi  memerintahkan untuk mengagungkan Allah, dan disyari'atkan bertasbih dengan mengucapkan:

 

سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْعَظِيْمِ

 


[Subhaana robbiyal adhzimi + wabi hamdihi] 3x

Artinya: "Maha Suci Tuhan-ku yang Maha Agung dan segala pujian bagi-Nya." dan mengucapkan: 

 

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الملاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

 

[Subbuuhun qudduusun robbul malaaikati warruuhi]

Artinya: "Tuhan yang Maha Suci, Tuhan para malaikat dan Jibril."

Beliau juga membaca zikir-zikir dan doa selain yang telah disebutkan. Beliau melarang membaca al-Qur'an ketika rukuk dan sujud. 

 

17- Kemudian mengangkat kepalanya dari rukuk seraya mengangkat kedua tangannya hingga setentang bahu atau daun telinga sambil mengucapkan:

 

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

 

 

[Sami'allahu liman hamidah]

Artinya: "Allah mendengar siapa saja yang memuji-Nya."

Dibaca jika dia sebagai imam atau shalat seorang diri. Jika telah berdiri tegak mengucapkan:

 

رَبَنَا لَكَ الْحَمْدُ

 

[Rabbanaa walakal hamdu]

Artinya:

"Tuhan kami, dan untuk-Mulah segala pujian."

Nabi # terkadang mengucapkan:

 

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ

 

 

[Rabbana walakal hamdu mil ussamaawaati wamil ul ardhi wamil umaa syi'ta min syai in ba'du]

Artinya:

"Tuhan kami, dan untuk-Mulah segala pujian yang memenuhi langit, bumi serta apa saja yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu setelahnya2."

Terkadang menambahkan bacaan:

 

أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِىَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

 

[Ahluts tsanaa i walmajdi, ahaqqu maa qoolal 'abdu wa kulluna laka 'abdun, laa maani'a lima a'thoita, wallaa mu'thia limaa mana'ta, walaa yanfa'u dzal jaddi minkal jaddu]

Artinya:

"Tuhan pemilik pujian dan sanjungan. Yang paling berhak dikatakan oleh seorang hamba –dan setiap kami menghamba kepada-Mu-: 'Tidak ada yang dapat mencegah apapun yang Engkau beri, dan tidak ada yang dapat memberi apapun yang Engkau cegah, tidak bermanfaat kekayaan dan kekuasaan pemiliknya untuk dapat menyelamatkan dirinya dari-Mu."

 

Makmum tidak disyari'atkan mengucapkan: [Sami'allahu liman hamidah] Tetapi mencukupkan dengan membaca tahmid [rabbanaa walakal hamdu…] setelah berdiri sempurna dari rukuk. Nabi # bersabda,

 

"Jika imam membaca 'sami'allahu liman hamidah' maka ucapkanlah, 'rabbana walakal hamdu'." Mereka yang mengatakan makmum turut membaca [sami'allahu liman hamidah] tidak memiliki dalil. Kemudian meletakkan tangan kanannya dipunggung telapak kirinya, atau pergelangan tangan kiri, atau di lengan bawah kirinya, seperti tatkala berdiri sebelum rukuk. Nabi # memanjangkan posisi ini sehingga sebahagian sahabat menyangka beliau lupa. Beliau mengingkari mereka yang meringankannya dan memerintahkan untuk tuma'ninah (tenang), tidak terburu-buru. Beliau melarang makmum untuk bangkit dari ruku sebelum imam dan mengancam siapa yang mengangkat kepalanya sebelum imam akan Allah ganti kepalanya dengan kepala keledai.

 

18- Kemudian bertakbir dan sujud. Tidak ada riwayat yang falid bahwa Nabi # mengangkat kedua tanggannya ketika akan sujud. Bahkan Ibnu Umar c berkata, "Nabi # tidak melakukan hal itu ketika sujud." Mungkin saja Nabi # melakukannya sekali atau dua kali untuk menjelaskan kebolehan hal tersebut. Nabi # ketika sujud mendahulukan kedua lutut sebelum tangan. Beliau sujud di atas tujuh anggota badan: wajah, dua tangan, dua lutut dan dua ujung kaki. Menempelkan kening dan hidung ke tempat sujud. Dan mengangkat kedua sikut (menjauhkannya dari lantai) dan membuka kedua lengan atas (melebarkanya). Mengangkat perutnya dari kedua pahanya (tidak menempelkanya), dan demikian pula mengangkat pahanya dari betisnya (tidak menempelkannya). Menegakkan telapak kakinya dan bertumpu dengan keduanya dengan menjadikan jari-jemari kakinya mengarah ke kiblat sedangkan bagian dalamnya menempel kelantai. Bertumpu juga dengan kedua tangannya, membuka telapak tangannya dengan merapatkan jari-jemarinya mengarahkan ke kiblat dan meletakkannya setentang dengan bahu, atau kening, atau bagian telinga; semua itu termasuk sunnah. Nabi # melarang orang yang shalat menempelkan lengannya (sikutnya) ke lantai seperti anjing yang berbaring.

Ketika sujud membaca:

 

سُبْحَانَ رَبِّيَّ الْأَعْلَى

 

[Subhaana robbiyal a'laa] 3x atau lebih.

Artainya:

"Maha Suci Allah, Tuhan yang Maha Tinggi."

 

Disukai juga membaca:

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

 

[Subhaanakallahumma rabbanaa wa bihamdika, allahummaghfirlii]

Artinya:

"Maha Suci Engkau, ya Allah, Tuhan kami dan dengan memuji-Mu. Ya Allah ampunilah aku."

Dan mengucapkan:

 

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

 

[Subbuuhun qudduusun robbul malaaikati warruuhi]

Artinya:

"Tuhan yang Maha Suci, Tuhan para malaikat dan Jibril."

Nabi # menganjurkan untuk memperbanyak doa ketika sujud. Beliau melarang membaca al-Qur'an ketika rukuk dan sujud, juga melarang tergesa-gesa, beliau memerintahkan untuk tuma'ninah (tenang).

 

19- Kemudian mengangkat kepalanya seraya bertakbir dan duduk baina sajdatain (duduk di antara dua sujud). Sesekali Nabi mengangkat kedua tanggannya bersamaan dengan takbir. Membentangkan kaki kirinya dan duduk di atasnya. Menegakkan kaki kanannya, dan meletakkan kedua tangannya di pahanya dengan membuka telapak tangannya.

Terkadang Nabi # duduk ittiqa yaitu menegakkan kedua telapak kakinya (dan duduk diatas tumit).

Tidak ada riwayat yang falid bahwa beliau mengingsyaratkan telunjuknya ketika duduk diantara dua sujud. Mungkin saja Nabi # melakukan sesekali untuk menjelaskan kebolehannya.

Dan membaca:

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاجْبُرْنِيْ، وَارْفَعْنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ

 

[Robbighfirlii warhamnii, warfa'nii wahdinii, wa 'aafinii warzuknii]

Artinya:

"Tuhanku ampuni aku, rahmati aku, angkat derajatku, beri aku petunjuk, beri aku keafiatan dan beri aku rizki."

Terkadang membaca:

 

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ

 

 

[Robbighfirlii, robbighfirlii]

Artinya:

"Tuhanku ampuni aku, Tuhanku ampuni aku."

 

Nabi # memperlama posisi ini hingga ada yang berkata, "Nabi lupa." Dan beliau melarang meringankannya.

 

20- Kemudian sujud yang kedua sambil bertakbir dan melakukan seperti yang dilakukan pada sujud yang pertama.

Dengan demikian selesailah rakaat pertama.

 

21- Kemudian bangkit sambil bertakbir, bertumpu kepada dua lututnya bukan ke lantai. Melakukan rakaat kedua seperti pada rakaat pertama tanpa takbiratul ihram, bacaan istiftah dan ta'awudz [a'uzubillah…].

 

22- Tidak ada riwayat yang falid bahwa Nabi # duduk itrirahat setelah rakaat pertama atau setelah rakaat ketiga3 kecuali diakhir hayatnya, dan itu memiliki kemungkinan-kemungkinan.

 

23- Kemudian melakukan pada rakaat kedua apa yang dilakukan pada rakaat pertama, hanya saja lebih singkat.

 

24- Kemudian duduk tasyahud awal setelah rakaat kedua. Jika shalatnya memiliki dua tasyahud; semisal zuhur, ashar, maghrib dan isya, duduk dengan iftirosy seperti duduk di antara dua sujud (menegakkan telapak kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri).

Kemudian membaca tasyahud awal:

 

اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 

[Attahiyaatu lillah, wassholawaatu watthoyyibaat, assalaamu alaikum ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokaatuh, assalamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahis sholihiin, asyhadu al laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu warosuuluhu]

Artinya:

"Segala penghormatan untuk Allah, demikian pula setiap shalat dan kebaikankebaikan. Kesejahteraan terlimpah atasmu, wahai Nabi, juga rahmat serta berkah-Nya. Kesejahteraan semoga telimpah atas kami dan hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disebah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah."

 

Nabi # membuka telapak tangan kirinya dan meletakkannya dipaha kirinya. Beliau mengepalkan tangan kanannya kecuali jari telunjukknya dan memberi isyarat dengan telunjuk itu ketika disebut nama Allah atau dalam dua tasyahudnya. Terkadang beliau mengepalkan kelingking dan jari manis dan membuat lingkarang dengan jari tengah dan jempol serta mengangkat telunjuknya.

 

Nabi # melarang iq'aa (bersimpuh) seperti anjig, yaitu seseorang menempelkan pantatnya ke lantai dan menegakkan telapak kakinya dengan meletakkan tangannya kelantai seperti bersimpuhnya anjing. Iq'aa yang dibolehkan adalah ketika duduk di antara dua sujud.

Nabi # meringankan tasyahud pertama ini, sampai-sampai seakan beliau duduk di atas batu yang panas.

 

25- Kemudian bangkit bertakbir dengan mengangkat kedua tangan untuk rakaat ketiga. Bangkit dengan bertumpu kepada lututnya bukan kepada lantai.

 

26- Kemudian membaca surat al-Fatihah dan tidak membaca sesuatupun setelahnya, karena tidak ada riwayat yang falid bahwa Nabi # membaca sesuatu setelahnya.

Kemudian melanjutkan kepada rakaat keempat dan melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat ketiga. Meringankan dua rakaat terakhir (rakaat ketiga dan keempat) dari dua rakaat pertama.

 

27- Setelah rakaat keempat pada shalat Zuhur, Ashar dan Isya atau rakaat ketiga pada shalat Maghrib atau rakaat kedua pada shalat (yang hanya dua rakaat) seperti Subuh, jumu'ah dan 'Id, kemudian duduk untuk tasyahud akhir.

Membaca bacaan tasyahud awal lalu membaca shalawat nabi:

 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 

[Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa shollaita 'alaa Ibroohiim wa 'alaa aali Ibroohiim innaka hamiidun majiid, wabaarik 'alaa Muhammad wa'alaa aali Muhammad, kamaa baarokta 'alaa ibroohiim wa'alaa aali Ibroohiim innaka hamiidun majiid]

Artinya:

"Wahai Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberi rahmat kepada keluarga Ibrohim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berilah keberkahan kepada keluarga Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."

Nabi # terkadang duduk tasyahud dengan tawaruk, yaitu menempelkan pantat kiri ke lantai dan mengeluarkan kaki (kirinya) dari satu sisi dengan menjadikannya berada dibawah paha dan betis kanannya. Menegakkan telapak kaki kanan dan kadang membaringkannya. Tangan kirinya menggenggam lutut kiri bersandar kepadanya.

 

28- Jika telah selesai dari tasyahud akhir hendaknya meminta perlindungan dari empat hal dengan membaca:

 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

 

[Allahumma innii a'uudzubika min 'adzaabi jahannami wamin 'adzaabil qobri wamin fitnatil mahyaa walmamaati wa min syarri fitnatil masiihiddajjaal]

Artinya:

"Ya Allah, aku berlindung denganmu dari azab neraka janannam, dari azab kubur, dari fitnah (cobaan) orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati, dan dari fitnah (cobaan) Dajjal"

 

29- Kemudian berdoa untuk dirinya sebelum salam. Diantara doa yang disyari'atkan oleh Nabi #:

 

اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

[Allahumma innii dzolamtu nafsii dzulman katsiiron wa laa yaghfiru dzunuuba illa anta, faghfirli maghfirotan min 'indika, warhamnii innaka antal ghafuururrohiim]

Artinya:

"Ya Allah, sesungguhnya aku banyak mendzalimi diriku, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah dosa-dosaku dengan pengampunan dari-Mu, rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Diantara doanya yang lain:

[Allahumma haasibnii hisaaban yasiiron]

Artinya:

"Wahai Allah, hitunglah aku dengan perhitungan yang mudah." Meminta kapada Allah surga dan meminta perlindungan dari neraka. Serta doadoa lain yang falid dari Nabi #.

 

30- Kemudian menutup shalatnya dengan salam sambil menoleh ke kanan seraya mengucapkan:

[Assalaamu alaikum warahmatullah]

Artinya:

"Keselamatan dan rahmat Allah atas kalian." Hingga telihat pipi kanannya. Dan menoleh ke sebelah kirinya demikian pula,

dengan menambah: [Wabarokaatuh]

Artinya:

"Dan berkah Allah."

Demikian yang diriwayatkan dalam sebuah hadits. Bisa jadi beliau mengucapkannya sekali untuk menjelaskan kebolehannya.

 

Disalin dari E-Book Sifat Shalat Nabi dari Takbir hingga Salam Karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibriin

 

Referensi :

Abdurrahman al-Jibriin, Abdullah bin.(2009).Sifat Shalat Nabi dari Takbir Hingga Salam.Retrieved from islamhouse.com. Retrieved from https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_sifat_shalat_nabi_dari_takbir_hingga_salam.pdf

https://rumaysho.com/19956-manhajus-salikin-sifat-shalat-nabi-membaca-taawudz-dan-basmalah.html

https://tafsirweb.com/37082-surat-al-fatihah.html

https://rumaysho.com

https://aslibumiayu.net/3081-petunjuk-praktis-tatacara-shalat-yang-diajarkan-oleh-rasulullah.html