Tauhid

Pembatal-Pembatal Amal Bagian 1

Bismillah,

Kebahagian abadi seorang hamba terletak di Surga, yang luasanya seluas langit dan bumi dan dia tidakan akan mampu menggapainya kecuali dengan yang dibangun di atas dasar ilmu (bashirah). Sehingga, mau tidak mau dia harus menshahihkan niat serta menshahihkan amal dengan ittiba'(Mengikuti as-Sunnah), dan agar ia senantiasa memuhasabah diri. barangkali dia banyak berbuat amal shalih lalu jiwanya condong kepada sesuatu yang akan membatalkan amal-amal tersebut sementara dia tidak sadar.

Para as-Salaf ash-Shalih sangat takut apabila amal-amal mereka terhapus sedang meraka tidak sadar. Allah  berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (58) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (59) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60)

Sesungguhnya orang-orang yang sangat takut akan (azab) Rabb mereka adalah orang-orang yang sangat berhati-hati, orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka dengan sesuatu apa pun, dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan , sedang hati mereka takut (karena mereka tahu bahwa) mereka akan dikembalikan kepada Rabb mereka."(Al-Mu'minun:57-60).

Yaitu mereka mengasihkan pemberiannya dengan rasa takut dan malu bila tidak diterima, yang hal ini bersumber dari perasaan takut mereka bila diri mereka dinilai oleh Allah telah berlaku sembrono terhadap persyaratan memberi.

Hal seperti ini termasuk ke dalam Bab "Bersikap Hati-hati dan Merasa Takut kepada Allah." Seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَل، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} ، هُوَ الَّذِي يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: "لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ".

Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Magul, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sa'id ibnu Wahb, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan “orang-orang yang mengerjakan perbuatan mereka, sedangkan hati mereka takut” itu adalah orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr dalam keadaan takut kepada Allah?" Rasulullah Saw. menjawab: Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq. Tetapi dia adalah orang yang salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan ia takut kepada Allah Subhana wa ta’ala.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Abu Hatim melalui hadis Malik ibnu Magul, dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، {أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

Tidak, hai anak perempuan As-Siddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang salat, puasa, dan bersedekah, sedangkan hati mereka merasa takut tidak diterima amalnya. mereka itu bersegera mendapat kebaikan-kebaikan. (Al Mu’minun: 61)

Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan melalui hadist Abdur Rahman ibnu Sa'id, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. hal yang semisal.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dan Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan tafsir ayat ini.

Abdullah bin Abi Mulaikah, seorang tabi'in, berkata, " Aku mendapati tiga puluh orang dari sahabat-sahabat Nabi , mereka semua takut kemunafikan(terjadi) pada diri mereka."

Adapun mazhab Salaf ash-Shalih dalam pembatal-pembatal amal, mereka telah menetapkan bahwa pembatalan yang bersifat hakiki (maksudnya pembatalan sesuatu yang bersifat keseluruhan), adalah pembatalan iman oleh kufur, syirik, riddah(murtad), dan nifak. Dan bahwa pembatalan yang bersifat nisbi tidak menghapuskan iman secara keseluruhan, seperti batalnya sebagian ibadah dengan sebab maksiat, atau kurangnya pahala dengan sebab yang lain.

Pembatal-pembatal Amal Ibadah yang Paling Pokok Adalah:

1. Kufur, Syi​Rik, Murtad, dan Nifak

Allah  Berfirman :

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

"Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, laluu mati dalam keadaan kafir, maka mereka itu sia-sia semua amal mereka di dunia dan akhirat, dan mereka itu adalah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."(Al-Baqarah:217).

Allah  Berfirman :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan juga nabi-nabi yang sebelummu, ' jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapus lah amalmu, dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". (Az-Zumar:65).

Allah  Berfirman :

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa yang kafir sedudah beriman, maka terhapuslah amalnya, dan dia di akhirat termasuk dari orang-orang yang merugi."(Al-Ma'idah:5)

Dalil-dali yang shahih menegaskan bahwa orang kafir jika masuk Islam, maka amal shalih yang pernah dilakukannya di masa sebelum Islam akan beguna untuknya. Adapun orang yang mati berpegang teguh pada kekufurannya, maka amalnya tidak akan berguna baginya, bahkan dihapuskan disebabkan kekufurannya itu, tetapi ia akan diberikan balasan atas amal shalihnya menurut syara' di dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي اْلآخِرَةِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى اْلآخِرَةِ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menzhalimi satu kebaikan pun dari seorang mukmin, diberi dengannya di dunia dan dibalas dengannya di akhirat. Adapun orang kafir diberi makan dengan kebaikan yang dilakukannya karena Allah di dunia sehingga jika tiba akhirat, kebaikannya tersebut tidak akan dibalas.”

2. Riya'

Allah  Berfirman :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧

"Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan." (Al-Ma'un:4-7).

3. Menyebut-Nyebut Serta Menyakiti ( Perasaan Penerima Infak) Setelah Memberi

Allah  Berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al-Baqrah:264).

4. Meninggalkan Shalat Ashar Kerena Malas Hingga Waktunya Habis

Imam Bukhari telah meriwayatkan, no. 553, dari Buraiah bin Hushaib Al-Aslamy radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه

"Siapa yang meninggalkan shalat Ashar, maka amalnya akan gugur."

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, no. 26946, dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ مُتَعَمِّدًا ، حَتَّى تَفُوتَهُ ، فَقَدْ أُحْبِطَ عَمَلُهُ (وصححه الشيخ الألباني رحمه الله في "صحيح الترغيب والترهيب

"Siapa yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja hingga habis waktunya, maka amalnya akan gugur." (Dinyatakan shahih oleh Al-Albany rahimahullah dalam Shahih Targhib dan Tarhib)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, "Berakhirnya waktu Ashar (tanpa kita melakukan shalat Ashar pada waktu itu) lebih besar dari ketinggalan perkara lainnya, sesungguhnya dia adalah Ash-Shalat Al-Wushto yang mendapatkan peringatan khusus untuk kita pelihara. Inilah yang diwajibkan kepada orang sebelum kita, namun mereka menyia-nyiakannya." (Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, 22/54).

 

Disalin dari Buku “KUMPULAN CERAMAH PILIHAN-Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu” Karya: Ibrahim Abdullah Bin Saif Al-Mazru’i, Halaman: 347 – 352

Ibrahim Abdullah Bin Saif Al-Mazru’i.2012.Kumpulan Ceramah Pilihan Menggugah Jiwa Menyentuh Kalbu. Jakarta: Darul Haq.

Sumber: https://almanhaj.or.id/2266-keutamaan-islam-dan-keindahannya.html

http://www.ibnukatsironline.com

https://islamqa.info/id/145252