Puasa

Manajemen Ramadhan ala Rasulullah part 2

 

Bismillah,

Artikel Manajemen Ramadhan ala Rasulullah part 2 ini adalah lanjutan pembahasan dari artikel sebelumnya. Pada artikel ini pembahasan terfokus kepada bagaimana  Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya menapaki 10 hari terakhir Ramadhan.

4. Ketika 10 Hari Terkahir Ramadhan

Ketika memasuki sepertiga akhir dari Ramadhan aktifitas Rasulullahi shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabanya sangat jauh berbeda dari apa yang kita dapati di masyarakat kita saat ini, khususnya di tanah air kita tercinta ini. Dimana kebanyakan kaum muslimin disibukkan dengan persiapan pernak-pernik menyambut hari Raya 'Idul Fitr secara berlebihan, mereka lebih banyak menghabiskan malam-malam Ramadhan mereka di pasar-pasar atau berbagai jenis pusat-pusat perbelanjaan, sehingga mereka melewatkan keutaman-keutamaan yang amat sangat banyak Allah berikan pada waktu tersebut.

Uswah kita Rasulullahi shalallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan contoh berharga bagaimana manajemen beliau ketika memasuki di sepertiga akhir Ramadhan.

Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha– berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

 

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

 

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

-Lailatul qadar

Pada sepertiga akhir Ramadhan ini juga Allah subhana wa ta'ala menempatkan malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97]: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

-I’tikaf

Diantara kebiasaan Rasulullah dan Sahabat ketika memasuki sepertiga akhir Ramadhan ialah mereka meninggalkan rumah-rumah mereka dan ber-I’tikaf di Masjid. Dan diantara tujuan utama dari I’tikaf ini adalah untuk mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Dari Abdullah bin Umar ia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ– صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam I’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.”(HR. Al-Bukhari no. 2025, Muslim no.1171, Abu Daud no.2465, Ibnu Majah no. 1773 dan Ahmad 2/133)

 

Ibnu Hajar Al Asqolani juga menyebutkan dalam kitab beliau Bulughul Marom, yaitu hadits no. 699 tentang permasalahan i’tikaf.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ 

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

 

 -Zakat Fitr

 

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya bagi kita semua untuk menjalankan sunnah-sunnah Rasulullahi shalallahu ‘alaihi wa sallam serta Istiqamah di atasnya.

 Baca artikel sebelumnya Manajemen Ramadhan ala Rasullullah



Sumber : https://rumaysho.com/3506-i-tikaf-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan.html

https://muslim.or.id/4150-persiapkan-diri-menyambut-ramadhan.html

https://muslim.or.id/356-lailatul-qadar-dan-itikaf.html

https://konsultasisyariah.com/19029-doa-menyambut-ramadhan.html

https://muslim.or.id/15917-anjuran-puasa-syaban.html

https://almanhaj.or.id/3139-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-di-bulan-ramadhan.html