Tazkiah

Ahklak Ulama Salaf terhadap Al-Qur'an

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash diriwiyatkan bahwa ia menceritakan, Rasulullah pernah bersabda kepadaku, 

"Bacalah al-Qur'an seluruh dalam satu bulan." Aku menanggapi, "Tapi saya masih kuat lebih dari itu." Beliau menjawab, "Bacalah seluruhnya dalam sepuluh hari." Aku kembali menanggapi, "Tapi aku bisa lebih dari itu." Beliau bersabda, " Bacalah dalam tujuh hari. Jangan selesaikan lebih cepat dari itu."[1]

Adz-Dzahabi berkata mengomentari hadist ini, "Ada juga riwayat shahih, bahwa Rasulullah lalu menurunkan kembali jumlah harinya hingga tiga hari dan melarang Abdullah untuk membacanya lebih cepat lagi dari itu [2]. Sabda Beliau, "Tidak boleh kurang dari tiga hari", adalah untuk al-Qur'an yang telah turun pada waktu itu, dan setelah ucapan ini, masih ada bagian al-Qur'an yang turun setelah itu, Maka tingkatan larangan terendah, adalah dimakruhkan membaca al-Qur'an seluruhnya kurang dari tiga hari. Orang yang membaca al-Qur'an lebih cepat dari tiga hari, tidak akan dapat memahami apalagi merenungkan isinya. Apabila seseorang mampu membacanya dalam satu pekan secara rutin dengan merenungkan maknanya, tentulah itu amalan yang utama. Agama itu mudah.

Dan demi Allah, termasuk juga di antaranya membaca sepertujuh al-Qur'an dalam shalat tahajjud atau shalt malam, dengan terus memelihara shalat-shalat sunnah rawatib, Dhuha, Tahiyat Masjid, juga dzikir-dzikir yang disunnahkan, doa sebelum dan sesudaha tidur serta seusai shalat-shalat wajib, sambil terus mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat dengan penuh kesungguhan secara ikhlas, sambil terus menyeru kepada kebaikan, memperingatkan dan mengajar orang yang belum tahu, melarang orang yang berbuat maksiat, juga sambil terus menjalankan shalat-shalat wajib dengan berjamaah secara khusyu', penuh thuma'ninah dan keimanan, menjalankan kewajiban-kewajiban lain, meninggalkan dosa-dosa besar, banyak berdo'a dan beristighfar, bersedekah menyambung silaturrahim, bersikap tawadhu', serta memelihara keikhlasan dalam semua ibadah tersebut; bila semua itu dilakukan, tentu merupakan kebajikan yang amat besa dan agung sekali, sekaligus perbuatan calon-calon penghuni surga yang dihisab dengan ringan (bahkan tanpa hisab) dan para wali Allah yang bertaqwa, semua itu adalah amalan yang disyari'atkan. 

Maka apabila seorang hamba disibukkan dengan mengkhatamkan bacaan al-Qur'an satu hari penuh, berarti ia telah menyimpang dari ajaran agama islam yang lurus, dan tidak akanmungkin ia melaksanakan sebagian besar dari ibadah-ibadah yang kami sebutkan, di samping ia juga tidak akan dapat merenungkan apa yang dia baca.

Sahabat Rasulullah yang ahli ibadah dan mulia itu sendiri ( Abdullah bin Amr bin al-Ash) menyatakan setelah berusia lanjut. "Coba seandainya aku turuti anjuran dan keringanan yang diajarakan Rasulullah, (tentu akan lebih baik).[3]

 

Disalin dari buku "MENELADANI AHLAK GENERASI TERBAIK Karya Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil Baha'uddin bin Fatih Uqail, hal:93-95" 

 

[1]Muttafaqun Alaih : Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Fadha'il al-Qur'an Bab Fi Kam Yuqra' al-Qur'an, no. 5054, Fath, 8/713; dan Muslim, Kitab ash-Shiyam, no. 35 Bab an-Nahy ab Shaum ad-Dahr....,2/8140, no.184

[2]Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya, Bab Fi Kam Yuqra' al-Qur'an, 2/113, no. 1390, 1391 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 1/261, no.1239, 1240.

[3]ini adalah penggalan dari hadist yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Fadha'il al-Qur'an, no. 5052, Fath 8/713, Adapun ucapan adz-Dzahabi di atas adalah dari Siyar A'lam an-Nubala', 3/84.